Free SpongeBob ani Cursors at www.totallyfreecursors.com
KEHAMILAN DENGAN GANGGUAN JIWA HALUSINASI | LINGKUP KESEHATAN

MEKY TRAVEL

1. Pemesanan Tiket Pesawat, Hotel, dan Paket Umroh
2. Anda Tertarik Membuka Usaha Travel Sendiri, Hubungi Kami
KLIK DISINI

Selasa, 13 September 2011

KEHAMILAN DENGAN GANGGUAN JIWA HALUSINASI




A. DEFINISI

  1. KEHAMILAN

Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membawa embrio atau fetus didalam tubuhnya. Dalam kehamilan dapat terjadi banyak gestasi (misalnya dalam kasus kembar atau triplet/ kembar tiga). Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia didalamnya disebut embrio (minggu-mingggu awal) dan kemudian janin(sampai kelahiran). Seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya disebut primigravida atau gravida 1. Seorang wanita yang belum pernah hamil dikenal gravida 0.

Kehamilan merupakan kejadian alamiah yang terjadi akibat bertemunya sel ovum dan sperma sehingga terjadi pembuahan. Adanya makhluk asing/ janin di dalam rahim wanita mengakibatkan rahim dan tubuh tersebut menyesuaikan diri dengan keadaan yang dibutuhkan janin. Selain terjadi perubahan fisik, bentuk organ tubuh dan fungsi organ tubuh, juga terjadi perubahan psikologis pada wanita.

  1. GANGGUAN PSIKOLOGIS PADA KEHAMILAN

Psikologi kehamilan merupakan sebuah ekspressi rasa perwujudan diri & identitas sebagai wanita, pengalaman kreatif, pemuasan narsisitik, perlekatan secara psikologis sejak mulai dalam rahim. Perubahan ini terjadi berbeda pada tiap trimester kehamilan. Berikut perubahan psikologis ibu hamil selama kehamilan:

Pada trimester I seperti perubahan hormonal, irritable, emosi berfluktuasi. Pada trimester II, seperti pergerakan janin, jenis kelamin sudah jelas, kepercayaan kultural (cemas & depresi). Pada trimester III, peningkatan estrogen, penurunan libido, perubahan tubuh yang tidak menarik termasuk sex, emosinal yang meningkat.

Masalah kehamilan merupakan episode dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian lagi menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri, dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan, hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.

Wanita yang tidak dapat mengendalikan psikologisnya tidak mustahil akan mengalami depresi. Jika depresi tersebut tidak segera diatasi dengan cara yang tepat maka akan timbul gangguan jiwa (psikosis) yang menimbulkan halusinansi pada wanita tersebut.

3. GANGGUAN JIWA DENGAN HALUSINASI

Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik. Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.

B. ETIOLOGI

Perubahan kondisi fisik dan emosional yang kompleks memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosiokultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri, dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan, hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat. Hal tersebut mungkin saja dapat terjadi dikarenakan:

a. Kehamilan peristiwa yang paling rumit.

b. Ketidakmatangan dalam perkembangan emosional dan psikoseksual.

c. Bayang-bayang rasa cemas dan takut akan hal-hal yang mungkin akan terjadi baik pada diri ibu maupun pada bayinya.

C. PATOFISIOLOGI

Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar. Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.

Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna. Kesimpulannya, ibu hamil dengan halusinasi ini dikarenakan ketidak mampuannya menghadapi masalah dan sulit menerima kenyataan yang dihadapi, sehingga ibu menggambarkan keinginannya dalam bentuk stimulus eksterna.

D. KLASIFIKASI

Klasifikasi halusinasi:

  1. Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya. Contohnya: seorang ibu hamil yang suaminya meninggal dunia, terkadang ia berhalusinasi mendengar suara suaminya.
  2. Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada. Contohnya: seorang ibu hamil yang suaminya meninggal dunia, terkadang ia berhalusinasi melihat suaminya.
  3. Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
  4. Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
  5. Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaan ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.

E. TANDA DAN GEJALA

Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).


Tanda dan gejala dari halusinasi adalah :

a. Berbicara dan tertawa sendiri

b. Bersikap seperti mendengar dan melihat sesuatu

c. Berhenti berbicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu

d. Disorientasi

e. Merasa ada sesuatu pada kulitnya

f. Ingin memukul atau melempar barang – barang

F. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :

1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik

Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.

2. Melaksanakan program terapi dokter

Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.

3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada

Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.

4. Memberi aktivitas pada pasien

Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.

5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan

Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.


ASUHAN KEBIDANAN

Ny “M” umur 21 tahun G1P0Ab0 UK 20 minggu

Dengan gangguan jiwa halusinasi kehamilan

DATA SUBJEKTIF

Ny. Maya (21 tahun) mengatakan hamil ke-1, umur kehamilan 12 minggu,

HPHT 8 Januari 2011

Keluhan utama ;

a. Bersikap seperti mendengar dan melihat sesuatu

b. Berbicara dan tertawa sendiri

c. Berhenti berbicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu

Pola aktivitas

Istirahat/tidur : 3 jam tidur malam, jarang tidur siang

Pola hubungan seksualitas :

Ibu tidak melakukan hubungan seks sejak sebulan yang lalu karena suaminya meninggal dunia

Riwayat Kesehatan

  • Penyakit sistemik yang pernah/ sedang diderita: Tidak ada
  • Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga: Kakek ibu pernah mengalami gangguan jiwa

Kebiasaan – kebiasaan

  • Perubahan pola makan ( termasuk ngidam, nafsu makan turun,dan lain – lain): Nafsu makan ibu turun kadang hanya satu kali sehari.

Keadaan Psikososiokultural

  • Kehamilan ini: Awalnya ibu menginginkan kehamilan ini, tetapi setelah ditinggal suaminya, ibu menjadi seolah sangat membenci kehamilan ini.
  • Penerimaan ibu terhadap kehamilan saat ini: Ibu merasa kehamilannya ini membawa kesialan untuknya.
  • Penerimaan keluarga terhadap kehamilan ibu: Keluarga tidak menginginkan kehamilan ibu karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang mendukung, ditambah suami ibu pun kini telah tiada.

DATA OBJEKTIF

Keadaan umum agak lemah, ekspresi wajah tegang, cemas dan gelisah, ibu tampak berusaha menyakiti dii sendiri dengan memukul – mukul perutnya

BB : 45 kg

LILA : 22 cm

Tanda Vital:

TD : 130/90 mmHg

S : 36ÂșC

N : 100 x/menit

RR : 25 x/ menit

Palpasi Leopold :

Leopold 1: Teraba ballothement (+)

ASSESMENT

Diagnosa Kebidanan :

Seorang wanita usia 21 tahun G1P0Ab0 UK 12 minggu dengan gangguan jiwa halusinasi pada kehamilannya.

Masalah :

Ibu merasa cemas, sulit tidur, panik, ingin menyakiti diri sendiri dan orang lain bahkan kadang berhalusinasi, merasa suaminya datang padanya dan sebagainya.

Kebutuhan segera :

· Meyakinkan ibu bahwa bidan akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu ibu mengatasi masalahnya dan ibu tidak perlu takut.

· Memberikan penyuluhan tentang maksud, tujuan dilakukan terapi serta prosesnya.

Diagnosa Potensial

Terjadi paranoid dan selanjutnya dapat terjadi psikoneurosa

Masalah Potensial

Tidak ada

Kebutuhan tindakan segera

Berkolaborasi dengan dokter dan psikiater untuk pemberian terapi.

PLANNING

  1. Memberitahu hasil pemeriksaan ibu

TD : 110/70 mmHg

S : 36ÂșC

N : 84 x/menit

RR : 22 x/ menit

  1. Mendengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.

Evaluasi: Ibu terlihat agak tenang

  1. Memberitahu ibu resiko bunuh diri/melukai diri sendiri baik bagi ibu maupun janinnya.

Evaluasi: Ibu histeris mendengarnya dan masih berusaha melukai diri sendiri

  1. Memberikan konseling kepada keluarga tentang keadaan ibu, penyebabnya, dan berusaha memotivasi keluarga agar menerima kehamilan ibu.

Evaluasi: awalnya keluarga menolak namun setelah mendengar konseling, mau merubah sikap terhadap kehamilan ibu.

  1. Menganjurkan keluarga untuk menjauhkan dan menyimpan alat-alat yang dapat digunakan oleh pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.

Evaluasi: Keluarga mengerti dan akan melakukan saran bidan

  1. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan sering berkomunikasi dengan orang lain.
  2. Memberikan penyuluhan tentang maksud, tujuan dilakukan terapi serta prosesnya kepada klien dan keluarga untuk diminta persetujuan dan dukungannya.

Evaluasi: Keluarga menyetujui tindakan terapi

  1. Melakukan kolaborasi dengan dokter dan psikiater untuk pelaksanaan terapi seperti pemberian obat anti depresan dan anti psikotik.

9. Memberikan dorongan moril pada klien, mendengarkan cerita keluhan – keluhan pasien dan menganjurkan untuk berdoa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar